*Muh. Minor, S.Pd (Jurnalis Kampung)
961 Kepala Daerah angkat sumpah 20 Februari 2025 lalu. Daerah yang kini berjargon Juara (rakyatnya maju dan sejahtera) telah pun setahun berjalan. Kepala daerah kayaknya sangat mau menjadikan rakyatnya hidup rukun tanpa jadi penyamun, hidup sejahtera jauh dari kata menderita.
Angkat sumpah itu setahun sudah lamanya. Rakyat menghadapi fakta sistem pemerintahan yang makin kesini makin tidak tahu harus berbuat apa.
Saya jadi teringat kisah legenda kala Imperium Sriwijaya yang tertulis lengkap oleh Mantan Walikota Batam Kepulauan Riau, Ahmad Dahlan, PhD yakni Sejarah Melayu di tahun 2014 lalu.
Buku yang menjadi buah tangan dari kunjungan kami Pemuda kampung, menyadur isi kitab Sulalatus Salatin karya kronik melayu yang dikemas Tun Sri Lanang, seorang Ulubalang di abad 18.
Di halaman 73 tertulis dengan karakter tebal “Kontrak Politik Penguasa dan Rakyat”. Alkisah, Demang Lebar Daun raja Sriwijaya kala itu, melepaskan diri sebagai penguasa dan memberikan takdir ini kepada menantunya Sang Sapurba, adik beradik dari Sang Nila Utama pendiri Tumasek Singapura. Kurang lebih seperti ini percakapan raja dan dalam bahasa melayu Demang Lebar Daun yang menjelma menjadi rakyat;
“…Baiklah tuanku. Tetapi jikalau anak-cucu tuanku mengubah dia, anak-cucu patik pun mengubah dia,” kata Demang Lebar Daun.
“Baiklah, kabulkan hambah akan awad (syarat) itu,” sahut sang raja. Jadilah, syarat sumpah setia dan kontrak politik itu, akan dijunjung tinggi kedua belah pihak (raja dan rakyat) hingga akhir zaman.
Pun dalam Gurindam Dua Belas, karya Raja Ali Haji semasa Kerajaan Riau-Linggau di Pulau Penyengat yang kini mahsyur disebut Bunda Tanah Melayu itu mengingatkan arti perjuangan antara raja dan rakyat dalam Pasal ke Sebelas;
Hendaklah Berjasa
Kepada yang Sebangsa
Hendaklah Memegang Amanat
Buanglah Khianat
Catatan berabad-abad lalu, tentu menjadi pengingat di masa sekarang. Konteks Pilkada dengan kisah tempo dulu ini, tentu sama hanya beda pola. Berkait kelindan dengan kontrak kepala daerah dengan janji dan kontrak politiknya, suka tidak suka kamu adalah penyedia kesusahan kami sebagai rakyat.
Tapi ingat, rakyat sedari dahulu lebih banyak memendam apa yang dirasakan, bukan menyiarkan pengumuman bahwa kami susah. Tapi sang raja itulah yang mencari tahu apa kesusahan itu.
Saya jadi teringat kisah khalifah Umar bin Khatab. Suatu ketika malam ia berpatroli berkeliling dari lorong kelorong, mendengarkan langsung apakah rakyatnya sudah sejahtera atau sebaliknya.
Suatu masa dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, negeri Arab dilanda paceklik. Hujan lama tak turun, tanah lama kering kerontang, tanaman pertanian mengering, dan banyak hewan ternak yang mati kehausan. Keadaan saat itu sungguh memprihatinkan. Sudah menjadi kebiasaan bahwa hampir tiap malam, Khalifah Umar melakukan perjalanan secara diam-diam. Ia masuk-keluar perkampungan untuk mengetahui keadaan rakyatnya. Malam itu, ditemani sahabatnya, Aslam, Khalifah Umar memasuki kampung kecil di tengah gurun. Dari sebuah rumah sederhana, terdengar tangis memilukan seorang anak. Langkah Umar pun terhenti. Kemudian beliau mengajak Aslam ke arah suara tangis itu.
Kebetulan pintu terbuka. Khalifah Umar melihat seorang ibu sedang memasak. Api di tungku menyala-nyala. Si ibu sibuk mengaduk-aduk isi panci yang dijerang di atasnya.
“Assalamu’alaikum,” Khalifah Umar memberi salam.
Si ibu terkejut dan ia menoleh seraya membalas ucapan salam dari Khalifah Umar. Namun ia tidak beranjak dari tempatnya. Khalifah Umar lantas bertanya, “Siapa yang menangis di dalam, Bu?”
“Anakku,” jawab si ibu.
“Apakah dia sakit?” tanya Khalifah Umar lagi.
Si ibu menggeleng. “Dia kelaparan,” katanya pelan.
Khalifah Umar dan Aslam saling berpandangan. Mereka duduk di depan rumah selama hampir satu jam. Akan tetapi, makanan yang dimasak si ibu tak juga matang. Karena penasaran, Khalifah Umar kembali bertanya, “Sebenarnya apa yang ibu masak? Mengapa tidak juga matang?”
“Sebaiknya Tuan lihat sendiri,” jawab si ibu.
Ketika Khalifah Umar masuk ke dalam rumah dan dia melihat apa yang ada di dalam panci tersebut, tampak air menggelegak dan di dalamnya terlihat beberapa butir kerikil. Betapa terkejut Khalifah Umar melihatnya.
“Ibu memasak batu?”
Si ibu mengangguk sembari berkata, “Aku seorang janda. Hari ini aku tak punya makanan yang dapat dimakan oleh anakku. Maka aku menyuruhnya berpuasa. Tadinya, aku berharap menjelang puasa akan mendapat rezeki, ternyata tidak. Terpaksa aku berpura-pura memasak untuk menghibur anakku. Kukumpulkan kerikil lalu aku rebus dalam panci. Aku minta ia tidur sambil menunggu makanan matang. Tetapi, sebentar-bentar ia terbangun dan menangis karena perutnya lapar.”
Hati Khalifah Umar terasa pilu. Ia ingin menangis mendengar penuturan si ibu. Ia bergegas mengajak Aslam pulang ke Madinah. Sesampainya di Madinah, Khalifah Umar mengambil sekarung gandum. Ia memanggul gandum itu ke rumah si ibu.
Di tengah perjalanan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memanggul karung itu.”
“Tidak, Aslam,” kata Khalifah Umar. “Jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau ingin mengantikanku memikul beban ini. Tapi, kau tidak akan bisa memilkul beban di pundakku pada hari pembalasan.”
Khalifah Umar datang lagi ke rumah si ibu. Ia menyerahkan sekarung gandum yang dibawanya kepada perempuan itu.
Si ibu terkejut, “Siapa Tuan sebenarnya?”
Khalifah Umar tersenyum, “Aku adalah Umar bin Khattab. Aku adalah seorang hamba Allah yang diamanahkan untuk mengurus keperluan rakyat. Maafkan aku karena telah mengabaikan ibu.”
Baiknya dan sewajibnya memang penguasa bisa memenuhi hajat rakyatnya. Berbagai macam cara, jangan hanya menjadi pencaci sebaiknya pemberi solusi. Hajat rakyat pasti berbeda-beda, hal baik dan hal yang buruk akan diperbuat untuk menjadikan keluarga dan seisinya sejahtera. Tiada kalimat pemakluman kalau soal rakyat, raja harus mengerti tanpa harus rakyat mempermalukan diri.
Setahun sudah berlalu, tidak pernah ia tahu bahwa rakyat itu adalah penentu kemenanganmu di Pilkada 2024 lalu. Apakah kami harus menggerutu?, tidak kami akan diam membisu, karena ukuran butuh hanya pribadi orang itu yang tahu.
Besok kita sudah Ramadan, ibadah puasa yang memberi jalan berkah menuju lebaran. Tapi bukan soal lebaran yang jadi rutin tahunan, kami mau menjadikan anak keturunan kami bernasib lebih baik daripada kami kedepan. Penuh harapan, doa dipanjatkan agar perwujudan rakyatnya Maju dan Sejahtera (Juara) bukan hanya sekedar ucapan.-*






