Muh. Minor, S.Pd (Jurnalis Kampung)
…”Menata yang terserak akibat egoisme seorang anak,”. Ini yang terus kami dengarkan saat walikota menitip pesan disetiap kata sambutan. Rupanya ia sadar, semakin tahu ulah para oknum dalam sistem yang ia ampu.
Tahun 2026, walikota mestinya mulai memacu. Hajat besar menjadikan Rakyatnya Maju dan Sejahtera terus dikerjakan jadi pemicu.
Mesin yang paham keinginan harusnya mulai repot, tanpa harus walikota repot-repot. Seragam sekolah gratis hingga Porprov 2027 harus dimulai dirintis, agar Linggau Juara tidak berakhir tragis.
Hajat ini tentu punya resiko. Terpaksa membangun infrastruktur dan memoles.
Tentu media massa akan diikutkan mengambil peran. Karena hajat kecil pun akan tersohor dipermukaan.
Memoles infrastruktur pun bisa, bagaimana dengan fungsi penyebarluasan oleh media massa?. Sejurus pertanyaan itu, kami media massa memberikan pernyataan,…”Bukan bisa atau tidak, tapi mau atau tidak,”.
Teringat di tahun 2015 lalu, ketika Lubuklinggau dipimpin kepala daerah berjargon Linggau Bisa menggaungkan hajatan olahraga regional ini lewat tangan dingin media massa.
Walhasil kami jadi hidup karena diberi penghidupan bagi perusahaan pers. Pers pun jadi maju dan sejahtera kalau bisa diterapkan. Dulu saja Lubuklinggau Bisa, harusnya sekarang Lubuklinggau Juara menurut sisi pandang media.
Sadarkah kita wahai insan pers, saling sikut invoice butut. 500 ribu rupiah pertahun kita diukur, kita hanya mengejar cukup lewat profesi dan ilmu yang kita anut. Cari tambahan lewat tawaran oknum agar kita meninggalkan idealisme berperan menjadi pemborong.
Bertahun-tahun invoice atau tagihan media massa yang tidak dibayar, mengindikasikan adanya ketidakmauan menghidupkan hajat hidup media massa. Pers adalah pilar ke empat berdemokrasi dan bernegara, dihidupkan oleh eksekutif, legislatif dan yudikatif dengan ala kadarnya. Padahal peran media dan wartawan sangat strategis dalam menyampaikan program dan capaian pemerintah kepada masyarakat.
Apakah media massa tidak dianggap penting?. Kami pelaku profesi juga bagian dari rakyatmu, ekslusif tapi dibuat menjerit, tahunya orang awam kami gagah, tapi isinya kami renta. Membayar dan memperpanjang masa aktif website pun kami kami tak berdaya.
Semoga dan dengan segera, jurnalis dipuja sebagai gadis manis, tanpa memandang sinis, dengan hanya dihargai dari simpati bukan apresiasi. Wallahua’lambishowab.-*






